Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Agustus 2012

Mereka





Tiba-tiba, saat melihat semua kertas-kertas, poster, dan gambar yang ditempel di Washington DC, I started to remember my National Orientation. Semua kertas-kertas itu, curahan hati kami, harapan dan mimpi serta ketakutan kami. Semua tertuang di kertas-kertas itu, di sepanjang lorong menuju ruang sesi. Jangan lupa juga semua peraturan, ground rules, serta semua values (remember one of the rules that given red underline on it because of  "that"?).

I really missed the kakak-kakak so much right now. Bagaimana awalnya kami menganggap mereka seperti kakak-kakak senior rese yang hobi marah-marah, dan sekarang merekalah our biggest inspiration. Semua yang telah kita lewati bersama. Tawa dan canda saat sahur. Gila-gilaan saat sesi. Tangis haru dan pelukan hangat bagi kami semua. Marah dan kecewa karena dikhianati oleh kami. Semua rasa itu, tampak begitu manis sekarang.

Ingat "kejadian" itu? Saat itu, kami benar-benar merasa seperti pengkhianat, pengecut yang tidak bisa menjaga kepercayaan kakaknya sendiri. Padahal, baru malam sebelumnya kita semua berpelukan dan menangis haru, dan pertama kali merasakan berada di tengah keluarga besar yang hangat. Baru tadi pagi saat sahur kita bercanda, ngobrol bareng. Tapi esoknya, semua itu hancur karena kesalahan kami. Kami benar-benar menyalahkan diri sendiri. Ingat saat kalian melepas name tag itu? Saat itu kami merasa kalian juga melepas semua rasa sayang kalian, melepas semua hubungan kekeluargaan. Tidak ada lagi kakak-kakak yang biasanya selalu berkumpul di pinggir ruang sesi. Tak ada lagi kakak-kakak yang menyiapkan roti dan susu saat malam. Kami benar-benar merasa hancur. Kami tidak tahu harus berbuat apa, semua serbasalah. Kalau ego ini tidak menghalangi, ingin rasanya berlutut minta maaf, dan mengembalikan semuanya ke keadaaan normal. That day was the longest day at my life

Tapi kemudian, semua berubah jadi super menyenangkan. Suara tawa tiap hari, ejekan, candaan (terutama Prince Inu the comic of standup comedy). Walau harus berduka karena wafatnya kakak perempuan Kak Fia (Innalillahi, semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menerimanya di sisi-Nya). Tapi, semua momen itu, adalah salah satu momen yang paling berharga di hidup kami.



Oh, dan tentu saja talent show, one of the spotlight at this orientation. Saat briefing sebelum orientasi, betapa paniknya kami karena harus menghapal 30 lagu daerah (bayangkan, 30 lagu daerah! Mana judulnya asing-asing semua pula, susah dicari pula. Entah gimana mereka bisa nemu tuh lagu-lagu #ngedumel) Dan di malam pertama, perkenalan kakak-kakak talent yang surprising dan asik banget, tapi setelah itu kami dibuat mati kutu.. ==" Lalu, special for drama section. Remember that small spot in front of the elevator? Bagaimana kita membuat alur drama, dengan tambahan-tambahan aneh dan super nggak jelas (inget nggak lagu "Apusing" yang didapatkan dari kerandoman Kak Riri dan Kak Stoki?)? Tawa yang muncul setiap kali menemukan ide-ide yang super aneh dan unyu, kehebohan dan kegilaan di larut malam yang muncul karena rasa kantuk dan lelah. Kak Riri yang imut dan random, Kak Stoki yang terkenal dengan tagline-nya, "Fokus dek, fokus!", "Catatannya mana dek?", Kak Hadi yang tenang dan mengajarkan pelajaran tidur-kilat-ala-Kak Hadi (which make us more sleepy..). Lalu, RUN-TROUGH! Run-trough yang super menyenangkan! Momen yang sangat kami nikmati setiap malam, walau komentar yang muncul setelah itu super horror ("Komunikasinya mana dek?"). Selalu berantakan di setiap run-trough, tapi sangat epic saat farewell party. Entahlah, the magic of farewell maybe?

Dan, tibalah hari perpisahan itu. Hari dimana kami pergi untuk mengejar mimpi. But, it such a pity that we couldn't hug all of them, we couldn't look at their eyes one by one and say thank you from the bottom of our heart. Kami berjanji, saat kami kembali nanti, senyum bangga-lah yang akan kami lihat dari kalian.  


We met you all as strangers and left you as a big family

And my first tears here, are for you all. Thank you, thank you, thank you.

Thank you...

Credit for Kak Rizky Grahita @Rizk Photography and Catherine's Facebook
Sabtu, 26 Mei 2012

Future

Hari ini timeline Twitter sama Faebook penuh sama postingan tentang hasil SNMPTN Undangan. Yang menang banyak, yang MENANG-is juga banyak. Semuanya saling menghibur diri sendiri, bersyukur, atau memberi selamat. Dan mau nggak mau, aku jadi kepikiran tentang masa depanku sendiri. Apalagi kalau bukan : MAAK MAU KULIAH DIMANA ANAKMU INII~

Dari dulu, aku memang masih galau soal jawaban dari pertanyaan itu. Soalnya cita-citaku sendiri juga sering berubah-ubah. Maklum, masih kamseupay ababil. Nih list cita-cita :


1. Mulai dari SD dulu, awalnya pengen jadi guru. 
2. Atronot. Tapi karena astronot harus bisa berenang, yasudahlah gue mundur.
3. Dokter hewan, gara-gara keseringan nonton binatang unyu di National Geographic. 
4. Kameramen alam, dan penyebabnya pun sama : keseringan nonton NatGeo. 5. Kerja di Google gara-gara ngiler liat Googleplex sama suasananya. (Anjiiir, aman sentosa kayaknya kerja disana, bisa makan enak di kantornya tiap hari. #modusterselubung)


Dan sekarang, gara-gara keseringan nonton Running Man, aku pengen jadi PD aka Program Director, atau minimal kerja di SBS laah..

Kenapa sih kepikiran buat jadi PD? Soalnya harus aku akui, Running Man itu konsep acaranya itu sederhana, tapi keren banget. Ide-ide tiap episodenya itu gila mampus, keren abis, sampai yang nonton jadi mikir, "Kok bisaaaa??!!" dan jadi speechless. Bener-bener gila itu production teamnya. 


Terus, aku liat, PD-nya lah yang terjun langsung ngarahin acara, ngasih instruksi games, dan ikutan aktif, dan aku SUKA banget aktivitas kayak gitu. Tapi belakangan aku baru tau, kayaknya PDnya RM itu salah jalur, soalnya kata Kak Rahmat aka Ketika Rahmat Bertasbih, PD itu tugasnya yang ngarahin di Control Room, dan yang ngarahin ke artisnya itu FD. =="

Dan kenapa harus di SBS? Selain gara-gara Running Man, aku juga sukaa banget sama variety show dan drama-dramanya. 49 Days, Secret Garden, Star King, semuanya dari SBS. Walaupun aku nggak tertarik sama buat drama sih, aku lebih tertarik masuk ke Entertainment Section-nya. Asik aja gitu, buat acara-acara kreatif yang bisa bikin orang senang dan ketawa. Dan acara-acara mereka memang kreatif banget, idenya orisinil. 


Tapi sialnya adalah, web rercruit-nya dalam bahasa Korea, dan mau nggak mau aku harus belajar bahasa Korea. Huhu.. Tapi, aku sempet lho message @SBS_RECRUIT dan DIBALAAAS!! Gyaaa, seneng banget waktu ngebaca messagenya dibales sama tempat kerja impian! Iya tau norak, tapi kalian semua pasti ngerti kan rasanya?

Sampai gue printscreen saking bangganya.. TTvTT
(tapi malu juga sih, gue nggak pake bahasa formal.. --")
Setelah itu, aku jadi pengen ngambil broadcasting, soalnya kan pas banget sama cita-cita gue, dan pasti asyik banget kuliah Broadcasting. Tapi, kayaknya dikit banget S1 Broadcasting di Indonesia, yang ada itu D3. Dan setelah aku cari-cari info, termasuk nanya langsung kayak yang di atas, gue baru tau kalau kerja di TV itu, semua major dipersilahkan, kecuali beberapa pekerjaan spesifik. Dan setelah dipertimbangkan, aku mutusin buat berjuang di Ilmu Komunikasi UNAIR!! #plokplokplok Kenapa? Soalnya ada hubungannya sama dunia pertelevisian, dan aku juga hobi berhubungan sama orang lain. Dan kenapa di UNAIR? Soalnya emang kayaknya takdirku ngikutin kakak aku ke Surabaya.. --"

Dan sekarang tinggal masalah gimana caranya jadi calon mahasiswa baru-nya. Katanya sih, tahun depan nggak ada tertulis, tinggal Undangan sama Mandiri. Tapi nggak tau juga sih gimana tahun 2014, soalnya kan kalau aku jadi pergi, aku liburan dulu setahun, hehe. Lewat undangan, rapot mampu nggak ya jalan di tanjakan terjal kayak gitu? Secara, rangking boleh oke, tapi nilai ancur kan sama aja bo'ong. Tapi nggak ada salahnya dong memupuk harapan, haha. Selain itu juga, yang jadi ganjalan adalah orangtua. Aku masih belum yakin orangtua seratus persen dukung, karena keliatan kalau mereka pinginnya ak kuliah di kedokteran. Tapi aku mah, ogah banget jadi dokter. Seram.. ==" 

Yah, masa depan memang kayak lagi buka kado. Deg-degan, isinya sesuai  apa yang kita inginkan atau nggak. Tapi kalaupun nggak, si pemberi kado pasti sudah mempertimbangkan apa yang kita butuhkan, yang kelak akan menjadi kado terindah buat kita. Ya nggak? =D

And I presented my future office, SBS-See the Bright Tomorrow

Rabu, 14 Desember 2011

Jealousy



Who is here that never feel jealous to somebody? you? you? *pointing No way, it’s impossible. Everybody must be ever feel jealous. Me too, now I feel jealous to somebody

I first knew her when I was a child. I knew her because she’s a writer. Wow, she was in the same age with me, but she already had her own book. At that time, I really wanted to be a writer too. So, It’s the first time I felt jealous to her. 

Day after day, year after year. I met her again on Twitter, because her tweet been replied by someone that very inspiring to me. Then, I opened her blog and read it. And I realized that she had everything that I want so much. She’s a writer of course, she could taekwondo, she had a happy —very happy— family, she was beautiful but I was more beautiful. And the most important, She looked so close with Allah. Really. She was, like, always dzikir to Allah everytime, and, I don’t know how to say it, but yeah, she looked very close to Him. I feel jealous, very-very jealous. Now she’s in America for student exchange program, that even make me feel more jealous.

Than, more I read her blog, more I realized that, she was not that perfect. She ever made a mistake. She had many negative side too. She is sloppy, she’s an emotional girl, she is too addicted to her idol. She’s not really smart, and the most important is, she also ever felt jealous to someone, just like me. When I read about it, I was very surprised. I thought that she was perfect and had everything, but she felt jealous to someone that she thought better than her in every side.

Then I know, I’ve mastered by a devil of jealousy. When I look to myself, I realized that I already had a happy life. I had a happy family too (well, sometimes I felt angry to them, of course), I had a good score at school, I had really good friends and they loved me, and I had many experienced that maybe she never felt.

And I’m happy with my life.  Really-really happy. We always see the other’s life and then think that OMG-they-have-a-perfect-life-while-my-life-is-suck. We never see our own life and realized that God already give us a great life. We had our own experience and we had our own happines. We supposed feel satisfied with it. And we supposed be grateful to God, to Allah, for give this great life that no one ever had.

So devil of jealousy, GET AWAY FROM ME AND NEVER COME BACK! LET ME FEEL SATISFIED WITH MY OWN LIFE !

Angry

Well, aku lagi marah nih. MARAH BESAR

Sumpah loh ya, aku ini jarang banget marah. Biasanya di situasi yang seharusnya bikin emosi, malah senyam-senyum doang. Itu di permukaan aja sih, aslinya ya tetep marah, dalam hati tapi.Paling cuma semenit doang, setelah itu udah deh, ilang. Good mood lagi. Kenapa ya, aku nggak bisa marah sama orang, apalagi maki-maki, walaupun itu cuma di pesbuk. Kalau marah terus iseng curcol di Facebook, malah bahasanya jadi sopan dan pake EYD. Yah, pokoknya nggak tega aja marahin anak orang (secara gua nggak mau digampar emaknya gitu ha-ha-ha). Makin besar nanti masalahnya, man! Yaudahlah, idup udah susah, kenapa harus dibikin susah lagi. Huahahahau.

Tapi kali ini, sumprit gila aku marah banget-nget, walau nggak sampai teriak-teriak-ngambek-ngamuk gajelas juga sih. Tapi, pokoknya marah banget lah. 

Jadi, kan minggu-minggu ini lagi di neraka ulangan semester. Nah, karena nggak mau lagi dapet rangking 21 (Iya, DUASATU astaghfirullahastaganagaajegilesyalalalalalala), jadi belajar mati-matian deh. Pokoknya minimal, ya, rangkingnya diubah menjadi 2+1 laah (Amin!)... Nah, hari Rabu kemarin, jadwalnya FISIKAcaubalau sama PPKn. Tapi, berhubung Pak Sam amat-sangat-berbudi dalam memberi nilai (dan juga karena otak saya putih total dari yang namanya fisika), jadi aku milih mati-matian ngapalin PPKn yang seabrek-abrek dengan setuluuus hati, ingin mengubah nilai 7 menjadi 8 gitu ceritanyaa.. Serius lho, sampai besoknya pontang-panting ke sekolah gara-gara terlalu asyik ngapalin PPKn (nggak juga sih sebenernya, tiap hari mah juga gitu.. =P).

Dan seperti yang sudah diduga sodara-sodara, daku benar-benar blank pas FISIKAcaubalau jahanam itu. Sumpah, pikiran kosong selama mengerjakan. Aku malah laper selama ngerjain soal-soal. Itulah namanya hukum SOALSUSAHKUADRAT + OTAKKOSONG = PERUT LAPAR berlaku. 


Laaalu, tibalah saatnya PPKn. Wih, udah lumayan pede-lah sama hasil belajarku. Yaah, minimal setengahnya insya Allah bisa deh. Begitu mengerjakan soal, kubaca baik-baik soal-soalnya berkali-kali, lalu menjawab dengan hari-hati. Serius, udah kaya' orang jatuh cinta aku ini sama soal, gara-gara diliatiin terus dengan sepenuh hati.

Tapi lama-lama aku menyadari sesuatu. 
Kalau Bumi itu bulat.

.
.
.
Yaelah, bercanda doang, kok ngambek.. Nggak seru amat sih lo.. <---- (Ngomong ke siapa nih?)

Aku tiba-tiba sadar, kalau jawaban di LJK nya itu berpola. Teratur gitulah pokoknya, nggak acakadut. Dalam hati, eh, tumben Bu Ma** artistik, jawaban soalnya dibikin nyeni. Tapi di akhir ulangan mulai ragu, kok ada beberapa jawabanku yang nggak ngikutin pola. Atau jangan-jangan ini jebakan doang? Yaudah deh, dengan penuh kepasrahan dan kepedean, kukumpul jawabannya. Sudahlah, yang penting sudah belajar mati-matian, begitu pikirku dalam hati.. (Eaaa). Begitu udah ngumpul, tiba-tiba Indahpus, temen aku yang gila-otaknya-kayak-aer-saking-encernya ngomong, 


"Jun, kamu ngikutin titik-titik nggak tadi?"
"Hah?" *denganmuka-mukadongo

"Itu, kan tadi di soalnya ada pilihan jawaban yang dikasih titik-titik, dan itu jawaban yang benar,"

JEDEEER.

Awalnya nggak percaya (SUMPAH LO SERIUS MASA' SIH KOK GUA NGGAK NYADAR). Terus, pas dengan anarkis nyolong masuk ke kelasnya Intan buat ngeliat soal, ternyata beneraaaan!!! GYAAAAAAA!!

Dan disinilah kemarahanku muncul. 

Ncus banget rasanya begitu tau. Aku dibikin patah hati sama soal PPKn. Kok ya dia nggak mau jujur gitu sama aku. 

Dan pas ngeliat teman aku yang selaaaalu nggak pernah mau berusaha belajar setiap ulangan, dengan bangga tertawa-tawa memamerkan kalau dia ngikutin titik-titiknya itu, rasanyaa nyesek banget, sumpah. Pengen banget nangis, tapi ditahan-tahan. Gila, malulah sama anak-anak kalau ketauan nangis cuma gara-gara ulangan PPKn. Ini baru part 1.

Keesokan harinya, pas istirahat habis ulangan KIMIAnjritbanget, ngobrol-ngobrol bareng sama Elphi dan Eka, dan mereka juga nggak nyadar ada titik-titik. Mereka ngasih tau, kalau mereka remidi, dapet enam. Dan Rahayu, classmate yang otaknya-kayak-aer-saking-encernya-juga, dapet 7 dan dia juga nggak sadar.  Gilalah,  dia aja dapet segitu, GIMANA GUEEEE?!  Dan katanya-katanya sih, Bu Ma** sengaja ngasih titik-titik supaya nilai murid-muridnya pada bagus, soalnya pas mid kemaren, nilainya pada ancur semua.

Dan akhirnya aku sukses menggalau di ulangan Prancis. 

IT'S NOT FAIR !

Lebih bangga dapet nilai 6 dari hasil belajar mati-matian daripada 100 tapi juga 100 % nggak murni! Supaya apa Bu Ma** ngasih titik-titik? Apa gunanya kita belajar mati-matian kalau ternyata guru sudah memberi jawaban di soalnya? Membantu murid boleh, tapi nggak gitu juga kali! Asal tau aja, ini semua nggak fair buat siswa yang udah belajar sampai kaya' mau mati! Inikah gunanya ulangan, menjadi ajang pamer nilai-murid-siapa-yang-paling-bagus? Kalau mau nilai muridnya bagus semua, langsung aja kasih 100, nggak perlu pakai ulangan yang ngabis-ngabisin waktu untuk belajar nggak berguna ! Kenapa coba pakai titik-titik, nggak LOPE-LOPE SEKALIAN! Atau umumin aja langsung lewat speaker ke seantero sekolah!
(hasil copas curcolan singkat di kertas soal Prancis)

Selama ulangan itu aku bener-bener marah, bahkan airmata sempet netes beberapa kali. AKU-MARAH-BANGET-SUMPAH. Pengen rasanya aku teriak-teriak, aku maki-maki, aku gampar. Tapi nggak bisa, dan karena nggak bisa itu yang bikin makin nyesek.

Pulang sekolah, aku baru tau kalau temen aku, X, yang selalu nyontek tiap ulangan dan selalu remidi, menyadari keberadaan titik-titik biadab itu.

Dan mau tau berapa nilainya?

SERATUS.

SUMPAH, INI NGGAK ADIL.
Kamis, 17 November 2011

Sick



Suatu hari di akhir bulan November, nggak tau kenapa jadi kepikiran sama pengumuman seleksi berkas nasional. Ini kok belum diumumin gitu.. Akhirnya, aku iseng-iseng nyari info tentang pengumuman ini dari para peserta yang tahun ini pergi. Dan bukannya serius nyari, aku malah kepincut buat baca cerita mereka selama di negeri orang.


Dan sumpah ya, cerita-ceritanya itu cambuk banget. Nget.


Aku yang dari awal nggak bernafsu amat buat ikutan ini, jadi terbakar. Sampai gosong parah. Tiap hari kerjanya cuma mikirin cerita-cerita mereka, ngayal gimana kalau aku tahun depan beneran pergi. Aku aktif nulis blog lagi cuma buat nyeritain pengalaman aku ikut tes kemarin biar kaya' mereka. Aku udah mikir gimana sekolahku di Amerika, pelajaran apa aja yang bakal kuambil. Bahkan, aku mati-matian meyakinkan temenku buat belajar Tari Dayak untuk penilaian seni, diam-diam supaya aku bisa 'mempersiapkan' kalau benar-benar pergi.


Aku tau, pikiranku sudah terlalu jauh. Jauh banget malah. Ibaratnya kayak mau makan di restoran. Baru dikasih tau rencana makan di resto, kita udah mikir nanti kalau kekenyangan makan gimana, nanti kalau mau boker gimana, nanti kalau salah pesan menu gimana. Padahal ya, sekali lagi, itu kan baru RENCANA, KEMUNGKINAN, HARAPAN. Banyak kemungkinan kalau rencana itu akan gagal. Bisa aja restorannya kebakaran, atau ban mobil kita kempes. Dan kalau kita sudah berharap terlalu tinggi, saat jatuh, pasti rasanya jauh lebih sakit. Aku sadar itu. Aku tau kalau aku gagal, sakit yang aku rasakan pasti sakiiiit banget, nusuk. Aku tau kalau aku gagal, aku nggak bakal bisa nahan diriku buat nggak nangis. 


Aku tau kalau aku gagal, aku pasti bakal bener-bener jatuh banget.


Aku udah nyoba supaya nggak terlalu mikirin hal itu dan mengalihkan perhatian ke hal-hal lain, berusaha mempersiapkan hati seandainya Allah memutuskan kalau isi berkasku bukanlah yang dicari oleh mereka. Tapi, nggak tau kenapa aku nggak bisa. Pas mid, kerjaanku kalau udah males ngerjain soal cuma coret-coret dan ngayal tentang AFS, seolah-olah aku bakal pergi besok. Bangun tidur, hal pertama yang kupikirin adalah AFS dan jantungku berdegup kencang karena mikirin hasil seleksi.


Ini bener-bener nggak sehat. Aku udah sakit. Aku merasa udah bener-bener terobsesi dengan AFS, dan aku takut banget. Takut kalau misalnya aku gagal, aku bakal depresi. Karena seumur hidupku, baru sekarang aku sangat menginginkan seuatu sampai seperti ini.


Tapi ternyata, Allah punya tujuan kenapa aku merasakan perasaan seperti itu akhir-akhir ini. Dan aku merasakannya bukan tanpa alasan. 


Mau tau kenapa?


Tunggu aja ya lanjutannyaa... AHAHAHAHAHAHAHAHA

AFS : National Document Selection

Hooolaaaa~


Astaga, betapa berjamurnya kalau saya baru memposting cerita ini sekarang. Hahahahaha.


Ah, sudahlah. Anjing menggonggong, Juni yang cantik tetap menulis~ Dudududu~


Jadi jadi, beberapa minggu setelah seleksi tahap ke-3, aku pergi ke Bandung with my mom. Mau ngapain? Ya liburan laah.. Sekalian nebeng Mama dinas gitu. Kan gratis jadinya. Okokokokokok *modus


Dan, hari saat aku pergi ke Bandung adalah hari pengumuman Seleksi Tahap 3. Dan ternyata hasilnya baru keluar pas udah nyampe di hotel di Jakarta. Waktu itu aku buka pake HP. Aku belum bilang ke Mama kalau hari ini pengumumannya, jadi kalau gagal, aku bisa diem-diem aja. Hahaha. *jeder


Waktu ngeliat judulnya, hati ini udah joget-joget aja rasanya. Tangan mah, udah dingin banget. Dan pas ku-scroll ke bawah, di urutan yang paling buntut, finally I found my name!


Uwaaaaa~ Rasanya langsung gemeteran ini badan. Langsung aja aku bilang sama Mama. Dan pas kubuka di laptop, soalnya masih nggak percaya, emang beneran ada! Gapapa deh urutan terakhir, yang penting loloos. Kyaaaaa~
Allhamdulillah. (Tapi sayang banget, Hasmah sama Zaki nggak lolos. Sumpah, aku kaget banget lho..)


Tapi itu baru pembukaan. Masalah sebenarnya baru akan dimulai sekarang.. *jengjengjengjeng


Jadi, ternyata aku harus ke Samarinda untuk ngelengkapin berkas-berkas yang kurang. Dan kata Kak Yudhis pas dia nelpon, ngelengkapin berkasnya paling lambat besok.


Ya sodara-sodara, BESOK.. *sengajadiulang *biarberasaefeknyagitchu
Heyyooo, wassap bro, ini gua lagi di Bandung lho, lagi terpisah pulau dari Kalimantaan. Mampus deh gua.


Akhirnya, diputuskan, kalau aku bakal PP Bandung-Samarinda besok, SENDIRIAN. 


Krikrik


Dan akhirnya ya gitu deh, aku naik travel dari Bandung ke Jakarta (sial, kenapa di Bandung nggak ada bandara sih?). Terus, naik pesawat ke Balikpapan (Allhamdulillah naik Garuda.. Wiii, dream comes true~), dan akhirnya naik taksi ke Samarinda. Belibet ya?


Jadi, aku sampai di Samarinda jam 2 siang. Pesawatku buat balik ke Bandung itu jam 6 sore. Samarinda-Balikpapan 2 jam. So, paling nggak aku pergi dari Samarinda jam 4 kan? Dan waktu itu kupikir, waktu 2 jam cukuplah buat ngurus berkas segala macam. Kupikir.


Ternyata, pas sampai di chapter, tau nggak Kak Abbas bilang apa?
Baru bisa ngelengkapin berkas jam 4 nanti.


AstaghfirullahAstagaDragonjlwiwpsgsbhxnxk, mampus, mampus semampus-mampusnya deh.


Aku udah bujuk, udah memohon-mohon, sampai Mama juga udah ngebujuk-bujuk, tapi tetap aja Kak Abbas nggak bergeming. Pokoknya jam 4, titik. (Dan emang sih, di pengumumannya udah ditulis, akunya aja yang dodol nggak baca..)


Pokoknya, wih, waktu itu aku bener-bener ngerasa bingung banget, gatau mau ngapain. Mau nangis, maaf saja, setidaknya nggak di depan banyak orang. Mau marah-marah juga nggak bisa.Pengen banget rasanya loncat-loncat, nonjok, nyakar, daan tindakan-tindakan anarkis lainnya. Okokokokok.


Jadi, aku nelpon supir taksi yang tadi, buat nganter aku makan dulu. Padahal, niat sebenernya sih, mau nangis di dalem taksi. Dan bener aja, begitu di dalam taksi, aku langsung nelpon Hasmah dan curhat sambil nangis frustasi. Dia nenangin, tapi sambil rada-rada nyalahin kebelenganku yang nggak teliti baca pengumuman. Huhuhuhu.. TT


Terus, habis makan, aku sama sopir taksinya pergi ke masjid dekat chapter buat shalat Dhuhur. (Thanks banget ya bapak sopir taksi yang setia nemenin akuu.. =*). Dan disana, aku salat sambil curhat sama Allah dalam hati, berdoa semoga dikasih jalan keluar.


Dan Allah emang nggak pernah ninggalin hamba-Nya ya.. Begitu selesai shalat, Mama langsung nelpon dan bilang kalau pesawatku udah diundur jadi jam 7.30. Jadi aku punya waktu buat nyelesaiin berkas, biarpun cuma 1 jam. Tapi itu juga udah allhamdulillah banget.


Tapi apakah waktu 1 jam emang benar-benar cukup?


Jawabannya : Sama sekali nggak cukup. Udah ngebut setengah mati nulis ulang berkas, lari-lari fotokopi ke seberang dan rasanya pengen menjerit, "WOOOI CEPETAN FOTOKOPINYA!!", tapi tetep aja kebablasan. Aku udah panik banget begitu udah hampir jam 6, dan aku masih belum selesai nyusun berkas-berkasku. Tapi, makasih banget deh buat Kak Yudhis yang udah mau repot-repot bantuin, akhirnya kelar juga.


Tapi, akibatnya adalah, taksi aku MELAYANG selama perjalanan ke Balikpapan saking ngebutnya. Aku udah bener-bener nggak berani tidur dan cuma duduk tegang di kursi. Untung deh nggak mabuk.


Dan rekor nyampe di Balikpapan jam 7 ! Ajegile ebuset, Samarinda-Balikpapan sejam boo.. Zuper sekali! Pengen rasanya kucium itu bapak supir taksi. Cupcupmuaah... =*


Dan allhamdulillah banget, rupanya pesawat aku delay 2 jam sampai jam 9, jadi aku nggak buru-buru banget, masih bisa nyantai. Syukur banget dah.. Tapi, rupanya pesawatku itu penerbangan terakhir, jadi begitu di waiting room, toko-toko udah pada tutup dan lampu udah mulai dimatiin. Jengjengjengjeng..
Tapi itu belum selesai. Begitu nyampe di Jakarta jam 10 malam, kupikir bakal langsung ke Bandung, jadi aku bisa bersua dengan kasur lagi. (Soalnya, supir travelnya sama kaya' yang nganterin aku ke Jakarta, dan beliau baik banget). 


Tapi ternyata, aku harus nunggu di bandara 3 JAM! 


Udah deh, bete banget aku jadinya. Ilfil jadinya aku sama supirnya. Kesel, benci, pengen ngomel-ngomel, bad mood. Aku cuma pengen pulaaaaang... TT
Dan pas akhirnya aku nyampe di Bandung jam 3 malam, langsung tepar deh di kasur.


Tapi, nggak papa deh. Nggak pernah lho sebelumnya, aku ngerasain berbagai macam perasaan dalam 1 hari. Yaa, itung-itung pengalaman lah. Betul tidak? =)

Hijab

Mulai bertanya-tanya, how important is hijab now? Zaman sekarang, jilbab seolah-olah cuma dipandang sebagai "pakaian wajib". Jilbab tidak lagi dipandang sebagai pakaian yang akan melindungi makhluk bernama 'wanita', melindungi kesucian mereka. Jilbab hanya dipakai sebagai aksesoris semata. Ada yang dengan mudahnya pergi ke sekolah dengan jilbab, lalu pulang sekolah auratnya diumbar kemana-kemana. Atau berfoto tanpa mengenakan jilbab. Lebih parahnya lagi, sering kita lihat sekarang, wanita berjilbab pacaran sambil peluk-pelukkan, atau dengan entengnya melakukan sesuatu yang tidak baik.


Helo, kalian kemanakan harga diri jilbab yang kalian pakai itu? Itu memang hanya selembar kain, tapi itulah identitas kita sebagai muslimah.



 Saya tidak mau munafik, jilbab saya bukan jilbab akhwat yang lebar dan rapi. Jilbab saya masih jilbab yang menyesuaikan trend. Saya juga pernah berpikir ingin melepas jilbab saya, ingin memamerkan rambut saya. Tapi di detik itu saya merasa takut, bagaimana pertanggungjawaban saya kepada Allah? Saya sudah terlalu terikat dengan jilbab saya. Dosa saya sudah banyak (sangat), dan saya tidak ingin menambahnya dengan dosa yang lebih besar.



Ingin rasanya kembali ke masa-masa dulu, masa dimana seorang jilbaber adalah -seseorang yang alim, suci, dan indah. Masa-masa dimana keberadaan seorang jilbaber menjadikan sekitarnya merasa syahdu dan tenang.


Semoga iman saya tetap terjaga, sampai nafas terakhir meninggalkan raga ini.

If...

Mama  : Tau nggak, kata papa kemarin, biar laptop mama ini diperbaiki terus 
               kasih ke Nia, terus mama beli laptop baru.
Aku      : Hah? Eh, laptop yang itu masih bisa dipakai kok.. (Iya, masih bisa 
               dipakai.. setengahnya.)*dengan gaya malu-tapi-mau
Mama  : Ah, tapi nanti kalau kamu jadi pergi, pasti dibeliin kok..
Aku      : .... Apa?
Mama  : Iya, nanti kalau kamu pergi, komunikasinya pasti cuma lewat email         
               kan. Lebih  murah daripada nelpon kan?
Aku      : .... (terdiam)
                                                                                 
                                                                               #####
Well, I start to thinking.

Kalimat mama yang terakhir itu bener-bener membuat aku terdiam. Speechless. Nanti kalau kamu pergi... Nanti dengan tanda kutip.
Rasanya, kalau sudah lulus tahap seleksi berkas nasional, emang tinggal selangkaaaah lagi. Selangkah lagi aku bakal pergi. Padahal aku tau, jalanan masih panjang. Iya kalau dapat hostfamily, iya kalau nanti aku bener-bener pergi. Mana aku pengen dapet YES, ya so pasti harus melewati seleksi tahap nasional mameeen..
Tapi aku jadi berpikir, kalau IF I really go. Kalau aku bener-bener (insyaallah semoga) pergi, gimana ya jadinya hidupku nanti? Apa aja yang bakal terjadi? Apa nanti aku bakal baik-baik aja disana, bahagia dan aman sentosa? Gimana jadinya kalau seandainya aku nanti dapat masalah, terus menghancurkan nama baik Indonesia? Apa aja yang bakal aku lewatkan disini selama aku pergi? Dan masih ada seeeriibuuu pertanyaan yang muncul.
Ah sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh dulu. Aku harus menjalani apa yang kuhadapi saat ini dulu dengan penuh kesungguhan dan doa. Aku percaya kok, suatu saat mimpi untuk menginjakkan kaki ke tanah Paman Sam bakal terwujud. Amin.
Dan saat itulah, semua pertanyaanku tadi bakal terjawab dengan sendirinya
Selasa, 23 Agustus 2011

Let's Talk 'Bout Love, Gals !

Aku bener-bener bersyukur aku masuk Smansa. Kenapa? Soalnya aku yakin, di Yepeka aku nggak akan nemu "pengalaman-ala-chef remaja" yang biasanya aku baca di novel. Pengalaman kayak apa? Ya, pengalaman tentang cinta misalnyaa.. (Widiiih..)

Bukan, bukan tentang cinta segilima antara Anang-Syahrini-Ashanty-Krisdayanti-Raul Lemos.. Itu mah nggak penting banget.

Teman sebangku aku di kelas XI ini, sebut saja namanya Meme (tunggu, kok jadi kayak berita kriminal ? Ah, abaikan) sekarang sering curhat-curhatan sama aku soal masalah cintanya. Dulu pas kelas X kita nggak akrab-akrab banget.. Tapi, karena di kelas XI IPA 3 yang asalnya dari kelas XB cuma kita berdua (plus sebiji cowok),  Kita jadi akrab deh.

Dia punya pacar, sebut saja (alah!) Aa'. Si Aa' ini lebih tua beberapa tahun. Intinya, si Aa' ini sudah lulus SMA dan sekarang jadi pengacara (PengangguranBanyakAcara). Mereka pacaran tuh, kayak labirin. Mumeeet banget. Awal perkenalan sih, manis banget. Iyalah, mereka kenalan di pabrik gula.

Nggak ding.

Pokoknya, biasalah orang yang fall in love at the first sight. Rasanya di dunia ini cuma ada mereka berdua,
yang lain dianggap kecoak-bertubuh-manusia. Cuma makhluk nggak penting gitu cyin.

Awal pacaran hubungannya sempet nggantung. Perbatasan antara putus dan tidak. Tapi kemudian lanjuut..
Nah, tiba-tiba, tanpa ngasih berita di koran atau pengumuman lewan tengtongtengtong, si Aa' ini bilang mau pergi kerja ke Jogja selama 4 bulan. Okelah kalau dia ngasih taunya sebulan atau setahun sebelum keberangkatan. Lah, ini. Coba tebak, dia ngasih taunya H-1 sebelum pergi. Iya, serius, kurang beberapa jam sebelum dia pergi.

Pacar macam apa itu?

Si Meme jelas aja kaget dan rada gapercaya gitu, soalnya dadakan banget. Akhirnya sehari sebelum Aa' pergi, mereka ketemuan. Dan ketemunya pun sebentar banget, palling cuma sejam. Itupun si Aa' pakai acara terlambat pula. Ketemuannya pun cuma makan terus ngobrol, udah. Sumpah, gajelas banget.

Masalah nggak berenti sampai disitu. Setelah di Jogja, si Aa' ga menghubungi Meme sama sekali. Mending kalo sms.. Atau miskol deh, kalau nggak punya cukup modal. Ini, boro-boro. Parahnya lagi, nomornya si Meme diprotect, jadi nggak bisa nelpon Aa'. Mau nulis di pesbuk, eh, wall-nya Aa' diprotect juga. Nah, lho, kaco deh.

Akhirnya si Aa' sempet sms sama chat lewat fb. Alesannya, HPnya diambil sama bos-nya, jadi dia gabisa nelpon. Dari sini aja udah keliatan aneh. Kalau aku jadi Aa', aku bakal berusaha mati-matian buat telpon pacarku. Mau itu beli hape baru kek, pinjem hape temen kek, atau cara jadul nelpon di wartel pun bakal kulakukan cuma buat dia.. (Ajegile, bersyukurlah kalian yang di masa depan nanti jadi pacarku.. Ahahaha). Tapi ini, cuih, nggak ada usaha. Seolah-olah dia pacaran itu nggak serius, cuma mainin si Meme doang. Anjrit, cowok tempe banget.

Dan parahnya lagi, tiba-tiba si Aa' mutusin si Meme! Lewat pesbuk! Bukan juga lewat chatting, atau nulis di wall si Meme. Lewat statusnya dia sendiri! Mana nulis tanpa mencantumkan siapa yang dimaksud (baca: Meme). Statusnya pun sok puitis, sok galau. Memutuskan secara sepihak, tanpa ngomong langsung, lewat pesbuk! Astagadragon, cemen banget! Cowok macam apa itu?

Si Meme shock, pastinya. Tapi dia nggak nangis-nangis bombai, setidaknya nggak didepanku. Nggak tau deh kalo sendirian. Mungkin udah meluk-meluk tiang sambil muter-muter nyanyi Kalho Naho.

Dia akhirnya bisa chat sama Aa' (baca  : CHAT !). Dan alasan si Aa' mutusin dia adalah karena si Aa' mikir si Meme nggak bakal kuat LDR (Long Distance Relationship) dan bakal sakit hati. Anjir, buaya banget tuh mulut. Bukannya elo yang emang nggak mau terikat, nggak mau usaha buat mempertahankan hubungan? Sumpah, pengen gue lempar ulekan ke si Aa' kalo ketemu ntar. *esmosi

Si Meme ini nggak mau putus, nggak rela. Mana diputusinnya nggak gentle lagi, nggak ngomong langsung. Tapi Aa' ngasih jawabannya nggantung. Nggak jelas, ini jadi putus apa nggak.. Si Meme dibiarkan gitu aja.
Eh, tanpa malu-malu, beberapa hari kemudian, si Aa' chat sm Meme pake sayang-sayangan! Thick-skin banget kan tuh orang ? Si Meme juga, mau-maunya nanggepin. Chatlah mereka berdua bla-bla-bla.

Dan tiba-tiba, Jengjengjeng, si Aa' bilang mau pulang ke Bontang besok! Ngook.. Nggak jelas, memang, aku tau.

Dan, yah, karena liburan, aku nggak bisa nanya sama si Meme progressnya gimana. Mau sms, gada pulsa. *terekjes.

Yang aku tangkep, si Aa' ini nggak serius mau pacaran sama si Meme. Nggak ada sama sekali sikap seorang pacar dalam diri si Aa'. Temenku yang lain malah bilang, jangan-jangan si Aa' ini cuma pura-pura pergi ke Jogja, supaya bisa nguji si Meme. Kalau bener gitu, SUPAYA APA? SUPAYAAA APAA??!! *capslock off

Nah, cuma di Smansa aku bisa denger langsung seorang temen cerita masalah cinta sama aku. Kalau aku di Yepeka, paling gaulnya sama si Haski, Ida, Siska, yang so pasti berjiwa anak-baik dan nggak ada keinginan buat cinta-cintaan segala. Di Smansa, aku bisa ngeliat kalo cinta pun ada berbagai macam cerita. Cerita cinta kayak gitu bukan cuma ada di novel, tapi pada kenyataannya memang ada.

Semoga aku bisa nemu cerita cinta yang indah.
Semoga masalah si Meme cepet selesai.
Semoga si Aa' dimakan wedhus gembel di Jogja.
Semoga Krisdayanti cepet melahirkan. (Lho?)

Happy Fasting !

Sumpah, aku kaget pas tadi malam pak uztads bilang, "Ini sudah memasuki malam ke-23". Hah? Masa iya? Serius? Sumpah? *lebay *emang *endenso?
Mesti gini tiap Ramadhan tiba.. Hatiku langsung berdegup kencang.. Dagdigdug oohh..  Tampannya wajahnya Mas Ramadhaaan~
*terekjes
Eh, mulai ngaco. Oke, abaikan.
Maksudnya, pasti perasaan kayak gini muncul tiap ramadhan. Pas awal-awal, mikirnya,
"Adduuuh, gilaa.. Puasa 30 hari mah, lama bangeet~". 
 Tapi pas hari-hari terakhir bulan ramadhan. yang terjadi adalah,
Ebuset, udah mau lebaran ya? Gila, cepet amat.. perasaan baru kemarin mulai puasaa..."
Iya kan? Iya kan?
 

Blog Template by BloggerCandy.com