Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 April 2013

(Assistant) Stage Manager



Yeah, babe, Assistant Stage Manager! How everything really happen for reason. At first, due to the schedule (bwahahaha) I decided not to join the musical but chose to be a light manager instead. Then, three days before the musical, on the Writer's Festival, I just knew that Hannes and Javin would be the Light Manager. Did not what happen, because I already told Craig and Anthony that I was interested to become the Light Manager. So I said to myself, oh well, whatever, and helped them built the set instead. Suddenly before the rehearsel started, Anthony called me and asked for my help to bring the properties to the stage during the play. Heck yeah, why not! Then I suddenly became an official Ass. Stage Manager. I was like, "I could wear the headphone, yeah!" Yup, at first, my purpose was to wear the headphone because people that wore them looked so cool (HAHAHAHA). I also realized that I more the "backstage person", like to be behind the scene rather that be the player, so I really wanted to feel how it feels like to be backstage people. And it felt so much fun, even though I felt kinda weak because I could not really yell to the actors. But, well, new experiences everyday!

Still, the headphone, woah.. I really finally had a chance to wear it..




Kamis, 06 Desember 2012

Good and Weird Stuff Here

Nongol lagi nih, hehe.. Daripada nggak ada kerjaan pag-pagi, mending nulis aja. Nggak afdol ya rasanya buat exchange student kalo nggak nulis hal-hal unik dan random dari negaranya masing-masing. Jadi, ya, udah tau dong tema tulisan kali ini apaan?

The Good Stuff:

1. Porsi makanannya gede banget, itu bisa kali buat dua kali makan. Surga banget pokoknya. Tapi ini termasuk hal negatif juga sih, buktinya ini celana jeans sudah teriak-teriak minta dibebasin *hikshiks

2. "Please" dan "Thank You" itu wajib hukumnya disini. Kata siapa orang Amerika nggak sopan? Pengertian sopan disini dan disana kan beda. Kalau misalnya mau minta tolong, wajib hukumnya nanya pakai kalimat lengkap dan pakai "please" (ini sih aturan di hostfamily aku, gatau kalau yang lain ada yang beda)

3. Sekolah disini enak.Pelajarannya nggak susah-susah amat, sedikit, dan tiap hari sama jadwalnya. Yang terakhir itu kadang bikin bosen juga sih, tapi karena belajarnya intensif dan terus menerus, gampang masuk ke otaknya. Lagian nggak lama kok, satu pelajaran cuma 45 menit. Siswa juga dituntut buat aktif ngomong di kelas, dan bukan tipe "lihat catat dan hapalkan" kayak di Indonesia. Terus kita boleh milih pelajaran. Bagian yang itu asik banget, soalnya kita bisa milih sesuai bakat dan minat kita. Kalau dipikir-pikir, buat apa belajar Fisika kalau kita benci pelajaran itu dan nggak ada minat buat kerja yang berhubungan sama Fisika? *alasan

4. Anerika itu menjaga banget tempat wisata sama tempat bersejarah mereka. Mereka rawat banget dan lokasinya bersih banget. Terus tourism mereka juga jago, ahli mengundang turis.

5. Amerika itu bersih. Nggak ada yang namanya sampah di jalanan, kecuali daun. Kesadaran membuang sampah mereka udah tinggi. Mereka juga udah terlatih untuk recycle.

6. Amerika itu nggak memandang orang melalui pekerjaan. Mereka nggak peduli apakah mereka itu bus driver atau school carpenter.

The Weird Stuff

1. Siswa boleh makan dan boleh ongkang-ongkang kaki di dalam kelas. Ini nggak negatif, soalnya kan kalau masalah budaya nggak ada yang bisa dibilang negatif. Yang pertama itu asik malah sebenarnya, bisa ngemil dalam kelas haha. Tapi nggak semua kelas kita bisa gitu, ada beberapa guru yang nggak mau kita makan di kelas.

2. Disini makan pakai sendok itu aneh, kecuali kalau makan sup. Biasanya orang sini kalau makan nasi atau apa-apa pakai garpu.

3. Orang Amerika cinta banget sama yang namanya keju. Hampir semua makanan disini mengandung keju. Hostsister aku, Kenzie, malah makan mi Ramyun Korea yang super pedas itu pakai keju.. Rasanya sih lumayan, tapi ya aneh aja...

4. Kadang jengkel juga tinggal di New Hampshire, mau kemana-kemana jauh banget. Kota-kota disini terpisahnya lumayan jauh, dan nggak ada kendaraan umum. Kadang terganggu juga sih, soalnya gabisa bebas main kemana-mana. Tapi ya, sudahlah..

5. Di New Hampshire, kalau ada orang asing mereka biasa aja. Kan kalau di Indonesia, kalau ada orang asing, pasti diliatin, disuitin, dan dimintain foto. Disini, boro-boro, diajak ngobrol aja kadang-kadang kalau nggak kitanya sendiri yang gerak. Katanya Craig, guru drama aku, orang NH dan East Coast itu memang cenderung dingin, beda sama Southern part. Atau mungkin karena Amerika itu melting pot, campuran dari berbagai bangsa, jadi kalau ada yang beda dikit mereka udah nggak asing lagi.

6. Peluk-peluk antara temen cowok dan cewek disini itu biasa banget dan nggak selamanya menandakan hubungan spesial *ceileh.

7. Orang Amerika itu nggak suka nyetrika karena mereka pikir itu nggak perlu. Bajunya dibiarin kusut semua. Nggak juga sih, soalnya mesin cucinya canggih, jadi kalau kusut kadang nggak keliatan banget. Aku kadang masih suka nyetrika, tapi setrika-nya hostfam nggak asoy, nggak bisa sampai licin-cin-cin banget. JAdi ya udah, jarang deh nyetrika, haha..
Jumat, 02 November 2012

Arrival Orientation


Kita ada Arrival Orientation di Hilton Hotel selama 3 hari. Aku sekamar sama Intan dan Mira dari Mesir. Begitu masuk kamar jam 2, kita ngobrol-ngrobrol bareng sama Maryam temennya Mira. Kita ngobrol tentang suasana Mesir setelah revolusi, gimana presidennya, dan lain-lain. Terus, kita tidur. Dan molor sampai jam 3 pagi. AHAHAHAHHAHA KEBO ABIS. Kita ngelewatin dinner sama welcoming session. Gimana dong ya, capek banget. Dan ternyata, keesokan harinya, anak-anak ngasih tau kalo semalam rombongan Indonesia sepi banget, paling cuma 15 orang yang hadir, ahahaha.



Besoknya, sesi dimulai. Aku sekelompok sama Pretti (India), Nazlican (Turki), Mohammed (Mesir), Intan, Maira (Africa), dan Bri sebagai GL. Lumayan canggung karena baru kenal dan sama-sama gagap bahasa Inggris, jadi nggak bisa gila-gilaan banget. Sesinya lumayan menyenangkan, kadang agak boring gara-gara canggung. Makanannya luar biasa, enak banget. Kadang ada yang aneh banget sih, tapi so far enak kok. Kecuali buat yang puasa, soalnya sahur mereka selama tiga hari itu Smokey Beef/Turkey/Fish, 2 telur tebus, 1 selada, 1 tomat, roti, yoghurt, orange juice, dan dalam keadaan dingin. Jadi kasihan banget sama teman-teman yang lagi puasa..





Di Washington sempet jalan-jalan ke Lincoln Memorial. Patung Lincoln di sana subhanalah gede banget.. Nggak lama-lama disini, paling cuma 15 menit doang.. Huhuhu.. Terus kita ke Kedubes Indonesia di Washington DC. Keren lah gedungnya, ala-ala Eropa gitu. Allhamdulillah sempet ketemu Pak Dino Patti Djalal. Habis itu kita ke Walmart buat belanja pakai uang 10 dollar pertama disini. Karena aku buta banget sama harga barang-barang, aku milih barang yang kecil-kecil aja. Awalnya pengen beli postcard, tapi karena nggak ada, ya sudah.. Akhirnya aku beli sabun, pasta gigi, sama satu lagi lupa. Aku habis sekitar 2 dollar. Malah ada yang sampai beli sepatu disini dan dia terpaksa pakai uangnya sendiri selain 10 dollar itu, soalnya mana ada harga sepatu 10 dollar disini, hahaha. Habis itu, karena katrok dan iseng, aku nyoba beli minuman di vending machine and it was work! Hahahaha! Fanta Orange boo, yang sudah jarang banget nemu di Indonesia..

Dan habis itu kita balik lagi ke Hilton Hotel. Tebak deh, habis itu aku ngapain? Yak, apalagi kalau bukan TIDUR. Dan akhirnya kebablasan lagi, kebangun jam 10. Padahal sudah niat bangun, tapi kita sekamar capek banget.

Second day, nothing special. Kita cuma mingkem di dalam ruangan dengerin speech dll. Oh, dan kameraku rusak kerendam air di dalam goodie bag-ku (smart, I know). Sorenya, aku kekunci di luar. Jadi ceritanya aku beli postcard, terus main ke kamarnya Dayu sama Wafa. Pas mau balik, kamarnya kekunci dan Intan didalam kayaknya molor, soalnya kuketok berkali-kali kagak bangun-bangun. Jadi ya akhirnya aku balik ke kamar mereka sambil nyeker, terus numpang tidur disana, hehe. Untung sudah packing, jadi nggak ribet-ribet amat.

Malamnya ada speech dari Imam Basar Arafat (yes, nggak ketiduran lagi!). Sebenarnya menarik banget speechnya, tapi waktunya yang nggak banget. Kenapa panitia setting waktunya malam habis dinner, dan besokya kita harus bangun pagi-pagi buat siap-siap pergi ke state masing-masing? Aku juga ketiduran di meja, dan kebangun gara-gara Carlos nanya soal mimpi basah (yeah, a good reason to listen, right?).

Besoknya, aku bangun jam tiga pagi, langsung siap-siap. Deg-degan banget, soalnya bakal ketemu hostfam beberapa jam lagi. Aku nggak sempet say goodbye ke teman-teman yang berangkat duluan, tapi sempet banget ngasih titipan postcard ke Kak Wendy (muahahaha). Habis say goodbye peluk-pelukan sama Intan, aku langsung naik ke bis dan went back to Dulles Airport

Sampai di airport kita dikasih visa, passport, sama dokumen-dokumen lain. Terus baris lumayan lama untuk masukin bagasi. Aku kaget banget, soalnya koperku overweight (padahal aku nggak beli macem-macem), jadi terpaksa bongkar-bongkar koper lagi dan baju adat harus kutenteng di goodie bag. Habis bagasi beres, ngantri buat masuk ke ruang tunggu. Ngantrinya panjang banget, terus pemeriksaannya lebih ketat. Semuanya ribet ngeluarin barang-barang elektronik, cairan, ikat pinggang, sama lepas sepatu. Alatnya canggih gitu, kayak X-Ray seluruh badan. Habis itu beres, aku sama Frilly langsung main cabut ke ruang tunggu masing-masing, soalnya udah mepet banget waktunya. Aku deg-degan juga sih, soalnya kita cuma berdua di bandara segede ini, dan nggak tau apakah yang lain pada panik nyariin kita atau nggak, dan aku aku lupa kalau aku juga punya temen sepesawat yang dengan seenaknya kutinggalin (maaf yah). Di tengah-tengah, aku sama Frilly pisah, soalnya ruangan kita beda. Makin deg-degan aja aku, dan makin panik soalnya takut ketinggalan pesawat. Akhirnya pas nemu terminal, aku langsung masuk aja dan ya, penumpang yang belum masuk tinggal aku sama anak YES yang satu lagi. 

Nunggu agak lama sambil celingak-celinguk (soalnya nggak bisa nonton TV di pesawat ini, huhuhu), akhirnya temenku datang. Sambil minta maaf gara-gara ninggalin dia, kita berdua duduk aja di kursi nggak tau mau ngapain. Dan akhirnya daku memilih tidur, hehe. 

Yap, nggak terasa pesawat udah sampai di Boston International Airport. Beberapa menit lagi aku bakal ketemu sama hostfamilyku, The Moulton. Dan ya, selangkah lagi aku akan mengarungi hari-hari di negeri Paman Sam. Hola, Americano! 


Kamis, 17 November 2011

AFS : National Document Selection

Hooolaaaa~


Astaga, betapa berjamurnya kalau saya baru memposting cerita ini sekarang. Hahahahaha.


Ah, sudahlah. Anjing menggonggong, Juni yang cantik tetap menulis~ Dudududu~


Jadi jadi, beberapa minggu setelah seleksi tahap ke-3, aku pergi ke Bandung with my mom. Mau ngapain? Ya liburan laah.. Sekalian nebeng Mama dinas gitu. Kan gratis jadinya. Okokokokokok *modus


Dan, hari saat aku pergi ke Bandung adalah hari pengumuman Seleksi Tahap 3. Dan ternyata hasilnya baru keluar pas udah nyampe di hotel di Jakarta. Waktu itu aku buka pake HP. Aku belum bilang ke Mama kalau hari ini pengumumannya, jadi kalau gagal, aku bisa diem-diem aja. Hahaha. *jeder


Waktu ngeliat judulnya, hati ini udah joget-joget aja rasanya. Tangan mah, udah dingin banget. Dan pas ku-scroll ke bawah, di urutan yang paling buntut, finally I found my name!


Uwaaaaa~ Rasanya langsung gemeteran ini badan. Langsung aja aku bilang sama Mama. Dan pas kubuka di laptop, soalnya masih nggak percaya, emang beneran ada! Gapapa deh urutan terakhir, yang penting loloos. Kyaaaaa~
Allhamdulillah. (Tapi sayang banget, Hasmah sama Zaki nggak lolos. Sumpah, aku kaget banget lho..)


Tapi itu baru pembukaan. Masalah sebenarnya baru akan dimulai sekarang.. *jengjengjengjeng


Jadi, ternyata aku harus ke Samarinda untuk ngelengkapin berkas-berkas yang kurang. Dan kata Kak Yudhis pas dia nelpon, ngelengkapin berkasnya paling lambat besok.


Ya sodara-sodara, BESOK.. *sengajadiulang *biarberasaefeknyagitchu
Heyyooo, wassap bro, ini gua lagi di Bandung lho, lagi terpisah pulau dari Kalimantaan. Mampus deh gua.


Akhirnya, diputuskan, kalau aku bakal PP Bandung-Samarinda besok, SENDIRIAN. 


Krikrik


Dan akhirnya ya gitu deh, aku naik travel dari Bandung ke Jakarta (sial, kenapa di Bandung nggak ada bandara sih?). Terus, naik pesawat ke Balikpapan (Allhamdulillah naik Garuda.. Wiii, dream comes true~), dan akhirnya naik taksi ke Samarinda. Belibet ya?


Jadi, aku sampai di Samarinda jam 2 siang. Pesawatku buat balik ke Bandung itu jam 6 sore. Samarinda-Balikpapan 2 jam. So, paling nggak aku pergi dari Samarinda jam 4 kan? Dan waktu itu kupikir, waktu 2 jam cukuplah buat ngurus berkas segala macam. Kupikir.


Ternyata, pas sampai di chapter, tau nggak Kak Abbas bilang apa?
Baru bisa ngelengkapin berkas jam 4 nanti.


AstaghfirullahAstagaDragonjlwiwpsgsbhxnxk, mampus, mampus semampus-mampusnya deh.


Aku udah bujuk, udah memohon-mohon, sampai Mama juga udah ngebujuk-bujuk, tapi tetap aja Kak Abbas nggak bergeming. Pokoknya jam 4, titik. (Dan emang sih, di pengumumannya udah ditulis, akunya aja yang dodol nggak baca..)


Pokoknya, wih, waktu itu aku bener-bener ngerasa bingung banget, gatau mau ngapain. Mau nangis, maaf saja, setidaknya nggak di depan banyak orang. Mau marah-marah juga nggak bisa.Pengen banget rasanya loncat-loncat, nonjok, nyakar, daan tindakan-tindakan anarkis lainnya. Okokokokok.


Jadi, aku nelpon supir taksi yang tadi, buat nganter aku makan dulu. Padahal, niat sebenernya sih, mau nangis di dalem taksi. Dan bener aja, begitu di dalam taksi, aku langsung nelpon Hasmah dan curhat sambil nangis frustasi. Dia nenangin, tapi sambil rada-rada nyalahin kebelenganku yang nggak teliti baca pengumuman. Huhuhuhu.. TT


Terus, habis makan, aku sama sopir taksinya pergi ke masjid dekat chapter buat shalat Dhuhur. (Thanks banget ya bapak sopir taksi yang setia nemenin akuu.. =*). Dan disana, aku salat sambil curhat sama Allah dalam hati, berdoa semoga dikasih jalan keluar.


Dan Allah emang nggak pernah ninggalin hamba-Nya ya.. Begitu selesai shalat, Mama langsung nelpon dan bilang kalau pesawatku udah diundur jadi jam 7.30. Jadi aku punya waktu buat nyelesaiin berkas, biarpun cuma 1 jam. Tapi itu juga udah allhamdulillah banget.


Tapi apakah waktu 1 jam emang benar-benar cukup?


Jawabannya : Sama sekali nggak cukup. Udah ngebut setengah mati nulis ulang berkas, lari-lari fotokopi ke seberang dan rasanya pengen menjerit, "WOOOI CEPETAN FOTOKOPINYA!!", tapi tetep aja kebablasan. Aku udah panik banget begitu udah hampir jam 6, dan aku masih belum selesai nyusun berkas-berkasku. Tapi, makasih banget deh buat Kak Yudhis yang udah mau repot-repot bantuin, akhirnya kelar juga.


Tapi, akibatnya adalah, taksi aku MELAYANG selama perjalanan ke Balikpapan saking ngebutnya. Aku udah bener-bener nggak berani tidur dan cuma duduk tegang di kursi. Untung deh nggak mabuk.


Dan rekor nyampe di Balikpapan jam 7 ! Ajegile ebuset, Samarinda-Balikpapan sejam boo.. Zuper sekali! Pengen rasanya kucium itu bapak supir taksi. Cupcupmuaah... =*


Dan allhamdulillah banget, rupanya pesawat aku delay 2 jam sampai jam 9, jadi aku nggak buru-buru banget, masih bisa nyantai. Syukur banget dah.. Tapi, rupanya pesawatku itu penerbangan terakhir, jadi begitu di waiting room, toko-toko udah pada tutup dan lampu udah mulai dimatiin. Jengjengjengjeng..
Tapi itu belum selesai. Begitu nyampe di Jakarta jam 10 malam, kupikir bakal langsung ke Bandung, jadi aku bisa bersua dengan kasur lagi. (Soalnya, supir travelnya sama kaya' yang nganterin aku ke Jakarta, dan beliau baik banget). 


Tapi ternyata, aku harus nunggu di bandara 3 JAM! 


Udah deh, bete banget aku jadinya. Ilfil jadinya aku sama supirnya. Kesel, benci, pengen ngomel-ngomel, bad mood. Aku cuma pengen pulaaaaang... TT
Dan pas akhirnya aku nyampe di Bandung jam 3 malam, langsung tepar deh di kasur.


Tapi, nggak papa deh. Nggak pernah lho sebelumnya, aku ngerasain berbagai macam perasaan dalam 1 hari. Yaa, itung-itung pengalaman lah. Betul tidak? =)

AFS : The Third Selection

Udah beberapa minggu lewat setelah seleksi di PB. Tinggal nunggu pengumuman doang, karena kalau aku lulus, aku bakal ikut seleksi ke-3 barengan sama peserta lain di Samarinda untuk yang pertama kalinya. Yippiiii..
Tapi, sampai dua hari sebelum hari seleksi di Samarinda, aku sama sekali nggak dapat pemberitahuan apapun. Mampus dah, lusa udah seleksi. Mana di Samarinda pula. Iya kalau Bontang-Samarinda tinggal lompat doang. Lha, ini kan hampir 3 jam jauhnya. Kalau besok baru dikasih tau, alamakjan, dadakan banget. Tapi, apa kalau misalnya nggak ditelepon, itu berarti gagal? Ah, masa' sih? Kalaupun gagal, kan mestinya dikasihtau juga dong, supaya nggak mendadak galau kayak gini. Aduh, gimana nih?
Yaudah deh, sukses aku galau malam itu. Nanya anak-anak PB yang lain, mereka juga nggak dapet pemberitahuan apapun. Ngecek website chapter, cuma ada pengumuman seleksi 2 buat se-Kaltim. Akhirnya aku nelpon Hasmah, soalnya dia lulus ke tahap 3.

"Has, gimana nih?"
"Yaudah, kamu telepon aja Sensei,"
"Aduh, gitu ya? Telpon ya? Tapi aku harus ngomong apa?"
"Ya, tanya aja kamu lulus apa nggak, gitu. Masalahnya, lusa kan udah tes. Terus, gimana coba nasibmu?"
"Oh, gitu ya? Telepon ya?"
"Iya, telepon aja."
"Atau, pasrah nugguin aja kali, ya? Aku bingung mesti ngomong apa kalau telepon. Telepon nggak ya?"
"Ya ampun, CEPAT SUDAH TELEPON!"

Aduh, bimbang gue, mesti telepon atau nggak ya? Rada-rada nggak berani nelepon. Takutnya dibilang nggak sabaran, takutnya dibilang terlalu obsesi. Takutnya, takutnya, dan seribu takutnya lainnya.
Tapi Juni, gimana mau berhasil, kalau nelpon doang lo takut? Cuma nelepon gituloh, plis deh. Sensei kan orangnya baik, gabakal juga kamu dimarahin. Ayo Juni, kamu harus pastikan sendiri nasib kamu! Kamu pasti bisa! (gilaaaa, cuma nelepon doang galaunya hampir sejam. Kalau dipikir-pikir, kenapa waktu itu aku takut banget nelpon ya?)
Ya akhirnya, kutelpon lah Sensei. Tapi, rupanya eh rupanya, Sensei juga nggak tau hasilnya, soalnya itu bukan tanggung jawab dia. Akhirnya Sensei nyuruh aku nelpon Kak Abbas, ketua chapter Samarinda. Astagaaaa, nelpon Sensei aja udah gemeteran, ini malah disuruh nelpon Ketua Chapter! Sumpah deh, perjuangan buat nelpon aja gila banget. Berkali-kali aku pencet nomornya, terus pas udah nyambung, langsung kututup! Berkali-kali kaya' gitu, sampai aku hapal nomornya. Takut banget.
Tapi, aku berhasil juga nelpon Kak Abbas. Dan ternyata, jengjengjengjeng....

Beliau juga nggak tahu.

Beliau bilang, nasional belum ngasih pemberitahuan apapun tentang hasil seleksi kemarin, dan nyuruh aku nunggu.

Omaigat, terus gimanaaa ini nasibkuuu..

Dan aku nunggu malam itu sambil deg-degan. Bingung mau ngapain. Mau tidur males, mau makan udah kenyang, apalagi mau belajar. Udah nggak mood lah. Nggak tau mesti ngapain.
Akhirnya, sekitar jam 11 malam lewat dikit, Kak Abbas telpon. Pas ngeliat nama beliau di layar HP, langsung dagdigdug banget. Kuangkat, dan allhamdulillah bangeet ternyata aku lulus! Horeeee... Tapi, dari PB yang lulus cuma Zaki doang. Maap ya teman-teman yang lain, jadi merasa nggak enak...
Terus, lansung aja ya ke bagian seleksi, soalnya para pembaca pasti penasaran.. *eaaa *padahal males nulis *emang punya pembaca gitu?
Jadi, seleksi ke-3 ini adalah dinamika kelompok, dimana kita harus bekerja sama dalam kelompok untuk membuat suatu barang. Pas seleksiku, bahan-bahan yang udah disiapin adalah kertas koran, spidol, plastik, gunting, dan selotip. Aku sekelompok sama Zaki, anak cowok Smantig Tenggarong-yang-lupa-siapa-namanya, sama Alisha (kalo gasalah), anak Samarinda. Kelompokku waktu itu memutuskan untuk membuat buket bunga, dengan tiga buah bunga gatau apaan dari kertas koran dan sebuah rumpur layu. Nggak jelek-jelek amatlah hasilnya, walaupun jujur aku kurang puas, soalnya kurang rapi dan kurang elegan aja gitu keliatannya. Anak Smantig itu perannya pasif, cuma diem dan manggut-manggut doang. Mungkin minder kali ya, dikelilingin sama tiga cewek cantik.. Hahahaha.. Alisha bagus, dia punya jiwa pemimpin dan pintar mengarahkan serta punya ide. Zaki juga sama kaya' Alisha. Aku? Wah, gimanaaa yaaa... Hahaha..

tampang-tampang nyolot.. -_____- (Ini kuambil dari FBnya Kak Cindy)
Habis itu, sesi pertanyaan dimulai. Alisha kita tunjuk sebagai juru bicara, walaupun sebenernya semuanya kebagian kesempatan buat ngomong sih. Pokoknya, begitu ditanya makna dari buket bunga yang kita buat, langsung keluar semua kata-kata gombal tingkat tinggi yang super elit. Wah, keren deh pokoknya, padahal aslinya ngibul.

Pokoknya, satu hal di seleksi ini, seberapa kerasnya kita mencoba untuk jaim supaya keliatan oke, nggak bakal bisa. Soalnya waktu untuk membuat barangnya mepet banget, cuma 30 menit. Mana sempet jaim-jaim segala? So, semua sifat asli kita pasti keluar deh, nggak ada yang ditutup-tutupin. Dan jangan egois pas ngomong. Pengen keliatan menonjol sih, sah-sah aja. Tapi, jangan kelewatan.. 
Oya, karena ini adalah pertama kalinya aku ikut seleksi bareng-bareng sama yang lain, jadi ini adalah pertama  kalinya juga aku ketemu dan kenalan sama peserta lain. Rada minder juga sih, soalnya kan mereka pasti udah kenal duluan. Rada nggak enak juga, soalnya pasti pada mikir, ini anak kayaknya di seleksi sebelumnya nggak pernah ada, kok tiba-tiba nongol begitu aja? Nahloh, bisa-bisa nanti pada mikir yang macem-macem. Tapi, yasudahlah. Anaknya asik-asik kok. Syukuuur banget aku punya kesempatan buat ikutan seleksi bareng mereka. =).

So, wish me luck, guys!
Sabtu, 22 Oktober 2011

AFS : The Second Selection

Keesokan harinya, aku udah siap di rumah jam 7.45  dan langsung pergi (tumbeeeen). Gamau ngulangin kesalahan kaya' kemarin, takut penilaiannya jadi negatif. Sampai di PB, alamak jaaan, masih kegembok bo pagarnyaa.. Jedeerr.. Mana gerimis lagi, masa' mau nunggu sambil ujan-ujanan? Aku pakai jas hujan sih, tapi dasar jas hujan jelek, rupanya air hujannya malah tembus dan akhirnya bajuku bener-bener basah paraaah. Tau gini mending nggak usah pakai jas ujan.

Akhirnya, aku milih pulang dulu buat ngambil hape. Awalnya, aku udah nyadar hapeku ketinggalan, tapi takut kalau balik, malah terlambat.

Pas balik lagi ke PB, udah ada 3 anak di depan (Aku lupa namanya siapa.. Maap yaa..) lagi ngobrol-ngobrol. Mereka juga gabisa masuk. Akhirnya kita ngobrol-ngobrol di depan gerbang. Terus Zaki, satu peserta yang ternyata temennya Hasmah juga, datang dan bingung kenapa kita pada diluar.

"Lho, kok gamasuk?"

Semuanya pada nunjukin gembok di pagar. Dan Zaki, dengan entengnya, buka pagar kecil disamping pagar besar dan langsung masukin motor. Karena aku bukan anak PB, aku mah cuma oh-oh gitu doang.. Tapi anak-anak lain, yang notabene udah sekolah di PB hampir setengah tahun, ketawa ngakak karena sama sekali ga nyadar ada pagar disitu.

Akhirnya, aku sama anak-anak cewek ngobrol di luar kelas, sementara anak-anak cowok gatau pada kemana. Pas aku liat jam, udah kaget banget.

Sekarang udah hampir jam 9.

Dan dengan kata-kata lain, sensei sama Kak Mahfud terlambat. Satu jam.

Allhamdulillah yaah... Kalau gini ceritanya, berarti kebodoranku kemarin nggak bakal dinilai yang jelek-jelek dong. Panitianya aja sendiri telat. HAHAHAHAHA

Yah, akhirnya sekitar jam 9 lewat dikit, sensei sama Kak Mahfud datang bersama seorang bapak-bapak. Pas aku liat, kok kayaknya aku pernah liat bapak-bapak ini dimanaaa gitu, tapi lupa.

Setelah basa-basi dikit dan ngambil urutan wawancara, yang belum dapat giliran nunggu diluar sambil ngobrol. Karena aku dapat urutan tengah-tengah, ya santai aja. Aku cukup PD kok sama wawancara B.Inggris. Lagian, sensei bilang kalo peserta nggak wajib bisa B.Inggris, karena bisa aja dikirim ke Eropa yang bahasa utamanya sudah pasti bukan Bahasa Inggris.

Tapi karena dibilangin kayak gitu, alhasil temen-temen yang lain, yang ngaku nggak bisa Bahasa Inggris, pada nyantai banget. Malah ada yang pas wawancara jawabnya pake Bahasa Indonesia doang, nggak ada Bahasa Inggrisnya sama sekali, kecuali bilang "Hello", "Good Morning". Dan diakhir, yang wawancaranya full pake Bahasa Inggris cuma aku sama Zaki.

Pas giliranku, rupanya bapak-bapak tadi sama Kak Mahfud yang wawancara. Aku lupa sensei Nasir kemana, di luar kalo gasalah. Lebih banyak bapak-bapak itu yang ngomong, dan Kak Mahfud cuma nyatet-nyatet doang. Nggak ada yang aneh-aneh di wawancara yang ini, biasa aja. Yang ditanyain cuma pengenalan diri, alasan pengen ikut AFS, kendala kalau misalnya sudah diberangkatkan. Allhamdulillah aku jawabnya lancar-lancar aja. Dan aku masih belum ingat pernah liat dimana bapak-bapak ini.

Pas semuanya sudah selesai wawancara, Kita semua disuruh masuk. Kak Mahfud sama bapak yang tadi sibuk nulis-nulis, sementara Sensei Nasir ngeliatin kita video-video gitu di laptopnya. Bukan, bukan video biru kok. Hahaha. Kita ngeliat video acara Jepang yang mirip Supertrap, intinya ngerjain orang-orang dengan peralatan yang canggih, ANJIR SUMPAH LUCU BANGET, nggak lebay. Semua peserta pada ketawa sampai nangis-nangis dan sakit perut, kecuali satu peserta yang anteng banget, kalem.

Terus, kita juga nonton video para AFSers yang sekarang lagi di luar negeri sama video yang ngeliatin perjalanan mereka sampai berhasil. Dan sumpah ya, kedua video itu memotivasi banget. Membangkitkan semangat dan impian kita. Ngeliat mereka foto bareng hostfamily, lagi mainan salju, bareng temen-temen mereka, itu rasanya gimanaa gitu. Rasanya pengen kaya' mereka, pengen ngerasain hal kaya' yang mereka alamin saat ini. Sensei juga cerita dikit pengalamannnya di Jepang dulu, juga memotivasi kita dengan kata-kata yang bagus banget. Pembangkit semangat lah pokoknya.

Terus, akhirnya bapak-bapak itu memperkenalkan diri, namanya Pak Armin. Dan aku langsung inget, kalo dia ini juri pas lomba debat kemaren. Beliau-lah yang pertama kali ngeliat gimana ancurnya daku dalam berdebat. TEREKJES, mampus. Eh, ternyata Pak Armin juga ngenalin aku dari awal. Jadi maaluuu.. HAHAHAHAHA. Beliau sama Kak Mahfud cerita-cerita dikit dan sempet ngasih kata-kata motivasi. Terus, habis  itu kita pulang deh, istirahat.

                                                  ####

Sekitar jam 2an kita balik lagi ke PB. Saatnya wawancara Bahasa Indonesia! Semua anak pada nyantai banget dan percaya diri. Iyalah, secara gitu, wawancara pake bahasa sendiri. Tapi, waktu itu kita nggak tau kalau sebenernya ini adalah wawancara kepribadian. Taunya cuma wawanca pake Bahasa Indonesia. Jadi, ya, kita nggak mikirin kengeriannya kaya' apa. Sialnya, aku dapat urutan terakhir. HUAAAA, lamaaaa...

Satu persatu anak-anak masuk. Ada yang cepet, ada yang lama. Kita yang diluar lagi-lagi cuma ngobrol, atau ngeliatin anak-anak fotografer PB yang lagi moto-moto model gitu. Yang udah selesai wawancara cerita-cerita, kalau tadi dia disuruh unjuk bakat. Hammak ee, matilah sayaa. Mau unjuk bakat apaaa cobaaa.... Kayang ? Makan Kerupuk ? Manjat Pohon ?

Nah pas gilirannya Zaki masuk, ini yang seru. Kita lagi ngobrol-ngobrol di kelas sebelah kelas wawancara. Dia wawancaranya lamaaaa banget, hampir 30 menit. Eh, pas selesai wawancara, dia masuk ke kelas sambil NANGIS ! Ya sodara-sodara, NANGIS! Kagetlah kita semua, dan langsung nanyain kenapa, kenapa, kenapa.. Dia cuma nangis sesenggukan. Mau ngomong, tapi masih belum sanggup. Rama, anak PB juga yang dapat giliran setelah Zaki, cuma bisa ngeliatin dengan pucat, terus jalan pelan-pelan ke kelas wawancara.

Terus setelah agak reda, dia cerita kalau di dalam tadi dia 'dibantai' habis-habisan. Debat sama Kak Mahfud sampai rasanya pengen marah-marah saking keselnya. Pas itu, Zaki udah mau nangis, tPI ditahan. Tapi, pas ditanya, "Kalau seandainya terjadi sesuatu sama ortu kamu, padahal kamu udah di luar, kamu  bakal pulang nggak?", meledaklah tangisannya. Secara, kan bapaknya Zaki baru aja meninggal. Jadi, pertanyaan itu jelas bikin dia sediih banget.

Tiba-tiba Sensei masuk dan ngasih Zaki tisu. Dia juga ikut ngobrol sama kita tentang wawancaranya Zaki. Terus dia nanya sama aku, "Kalau kamu misalnya kaya' gitu, misalnya pas udah disana, ternyata ada apa-apa disini, kamu bakal pulang nggak?". Ya pastilah aku jawab pulang. Gila aja kalo tetep keukuh tinggal disana. Mau jadi anak durhaka?

Sensei bilang, "Semua jawaban nggak ada yang salah. Itu hak kalian buat milih. Dulu sempet ada kakak yang pas pergi, ternyata ayahnya meninggal. Tapi dia milih untuk nggak pulang. Alasannya, satu, dia bakal rugi banget kalau pulang. Pengorbanannya udah banyak banget buat bisa pergi. Belum ada pengalaman yang dia dapat ataupun yang dia sharing disana. Kedua, ngurus visa itu lama. Paling kira-kira seminggu baru selesai. Rugi kan kalau pulang, ternyata yang meninggal udah dikubur. Kalau pulang, bisanya pasti cuma nangis meratapi. Padahal, nangis berlebihan ke orang yang sudah meninggal bakal membuat almarhum menderita kan? Orang meninggal cukup didoain aja, karena itu yang terpenting kan?"

Jawaban Sensei buat aku merenung. Iya juga, sih. Jujur aja, aku paling nggak nyaman kalau udah ngomongin masalah begitu. Pokoknya nggak suka aja.

Nggak berapa lama, Rama keluar. Dia juga nangis, walau nggak separah Zaki. Dan masalahnya sama : keluarga. Waduh, kacau ini. Topik itu adalah topik yang paling nggak aku suka, soalnya bikin suasana jadi canggung dan nggak enak. Belum lagi masalah unjuk bakat. Mau nunjukin apa coba aku?--''

Terus, akhirnya aku masuk. Deg-degan bangetlah, gilaa.. Mana suasana di ruangannya rada-rada gimanaaa gitu, bikin tegang. Bismillahirrahmanirrahim.. Dengan ucapan basmalah, aykhirnya aku duduk di depan Kak Mahfud sama Sensei. 

Awal-awal mah biasa aja, nggak serem amat. Aku disuruh ngenalin diriku dan menceritakan diriku ini kaya' apa, selama dan sekuat-kuatnya mulutku bisa nyerocos. Jadi aku blablabla panjang, intinya sih, menarsiskan diri sendiri.. Ngahahahay. 

Habis itu, mulailah sesi debat yang panjaaaaang banget dan bikin mulut berbisa berbusa dan menghasilkan fenomena pemuncratan jigong maksimal. Kebanyakan aku debat sama Kak Mahfud, sementara Sensei cuma nyatet-nyatet doang, dan sesekali nimbrung. Aku lupa aku debat tentang apa aja, tapi aku inget tentang tema debatku yang terakhir sekaligus yang paling panjang. Pokoknya tentang "Orang Indonesia yang Kuliah di Luar Negeri Terus Kerja di Indonesia adalah Orang Gagal karena Ia Tidak Bisa Mengaplikasikan Ilmunya di Perusahaan Luar Negeri". Aku bingung, karena tema ini sama sekali nggak umum dan aku nggak menduga kalau tema ini bakal dikeluarin. Jujur, aku nggak begitu ngerti tentang topiknya, dan nggak punya banyak info tentang ini. Tapi, sori lah yaaaw, egoku ini gede bangeet. Mana sudi kalah begitu aja. Lebih baik mati saat berjuang! Yeah ! Jadi aku nyerocooos aja ngomongin sesuatu yang bener-bener bullshit yang aku sendiri bingung maksudnya apa, tapi dengan gaya yang meyakinkan doong.. Okokokokok.

Satu tips kalo lagi debat : Kalau udah stuck, bingung mau ngomong apa, tapi nggak mau kalah, ALIHKAN PEMBICARAAN KE TOPIK AWAL DAN BEGITU SETERUSNYA. Jadi, ya, ulang-ulang aja terus pembicaraannya sampai muyak. Hahahahaha. Itu sudah yang aku lakukan selama wawancara. Pokoknya nggak bakal aku mau berlutut sama Kak Mahfud. Mana mukanya pas wawancara bikin jengkel, rasanya pingin ku-skakmat aja. Yaudah, kuajak debat sampai lamaa banget. Terus pas udah nggak-tau-udah-berapa-lama-bumi-berputar, dan temen-temen yang lain udah mulai ngintip-ngintip gelisah di luar, akhirnya Kak Mahfud menghentikan perdebatan. Aku sebenernya legaaa banget, karena itu udah nyaris kalah. Udah gitu, karena keasyikan debat, nggak sempet lagi disuruh unjuk bakat atau ditanyain masalah orangtua. Selamaaat, selamaaat..

Dan tau nggak, udah berapa lama kita debat di dalam? SATU SETENGAH JAM! Mulai jam 4 sampai setengah 6 ! Gilaaa! Padahal aku yang didalem ngerasa bentar banget lho. Dan pas Bu Vivi dateng buat ngeliat, terus duduk di kursi yang habis kududukin, beliau langsung bilang, "Gilaaa,  panaaas bangeet! Kursi Panas ini namanya!".

But, seriously, this is the most inspiring test I ever had in my life. Mana ada lagi coba, TES yang MENYENANGKAN dan MENGINSPIRASI kaya' gini. Pokoknya, asyik bangeet! Aku inget, pas awal-awal, aku pernah ngerasa kesel, buat apa sih pake seleksi-seleksi segala? Tapi, ya ternyata, aku salah (BESAR). Tes ini seruu bangeet! 

Dan aku bersyukur, aku dikasih kesempatan buat ngerasain pengalaman berharga ini. Allhamdulillah... =)
 

Blog Template by BloggerCandy.com