Ini bukan hanya perjalanan aku, kamu, dia. Ini perjalanan KITA.
Selasa, 14 Agustus 2012
Farewell Songs
Gemilang
Hari terus berganti
Banyak yang telah terjadi
Diriku kian pasti
Segala kan kuraih
Diriku kian pasti
Segala kan kuraih
Bila esok menjelang
Bahagiapun telah datang
Bintang di angkasa
Bersinar gemilang
Bahagiapun telah datang
Bintang di angkasa
Bersinar gemilang
Tempat kutuju segala angan dan harapan
Tempat kupadu cita-cita dan impianku
Tempat kupacu setiap langkah yang berarti
Tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu
Tempat kupadu cita-cita dan impianku
Tempat kupacu setiap langkah yang berarti
Tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu
Waktu yang telah menguji
Tekad yang kumiliki
Kini tlah terbukti
Semua kan kuraih
Tekad yang kumiliki
Kini tlah terbukti
Semua kan kuraih
Rintangan yang kuhadapi
Cobaan kulalui
Semua kan kudapati
Betapa gemilang
Cobaan kulalui
Semua kan kudapati
Betapa gemilang
Pelita Cita Indonesia
Bersama kita melagukan irama
Puji kharisma alam Indonesia
Bangsa yang ramah
marilah semua bersatu berpadu
Padang hijau permadani negriku
Unggas terbang bebas nian berlagu
Membuat kharisma dunia
bagai simfoni alami
Hidup di Indonesia
Tak jua di marcapada
Cahaya purnama raya
Menghidupi desa-desa
Nyiur di pantai, bahtera melambai
Bukit hijau menjuntai
Walhasil kan kugapai
Suci bunga-bunga khatulistiwa
Titian dewa-dewi indraloka
Puji kharisma alam Indonesia
Bangsa yang ramah
marilah semua bersatu berpadu
Padang hijau permadani negriku
Unggas terbang bebas nian berlagu
Membuat kharisma dunia
bagai simfoni alami
Hidup di Indonesia
Tak jua di marcapada
Cahaya purnama raya
Menghidupi desa-desa
Nyiur di pantai, bahtera melambai
Bukit hijau menjuntai
Walhasil kan kugapai
Suci bunga-bunga khatulistiwa
Titian dewa-dewi indraloka
Selamat Jalan Kekasih
Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan
Jangan kau risaukan
Air mata yang jatuh membasahiku
Harusnya kau mengerti
Sungguh besar artimu bagi hidupku
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Satu hari nanti kita kan bersama lagi
Bersama lagi, kita berdua
Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan
Jangan kau risaukan
Air mata yang jatuh membasahiku
Harusnya kau mengerti
Sungguh besar artimu bagi hidupku
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Satu hari nanti kita kan bersama lagi
Bersama lagi, kita berdua
Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan
Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan
tiada yang harus kau ragukan
Segalaku untukmu
Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanati kita kan bersama lagi…
Bersama lagi, Kita berdua
Segalaku untukmu
Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanati kita kan bersama lagi…
Bersama lagi, Kita berdua
Senin, 13 Agustus 2012
Mereka
Tiba-tiba, saat melihat semua kertas-kertas, poster, dan gambar yang ditempel di Washington DC, I started to remember my National Orientation. Semua kertas-kertas itu, curahan hati kami, harapan dan mimpi serta ketakutan kami. Semua tertuang di kertas-kertas itu, di sepanjang lorong menuju ruang sesi. Jangan lupa juga semua peraturan, ground rules, serta semua values (remember one of the rules that given red underline on it because of "that"?).
I really missed the kakak-kakak so much right now. Bagaimana awalnya kami menganggap mereka seperti kakak-kakak senior rese yang hobi marah-marah, dan sekarang merekalah our biggest inspiration. Semua yang telah kita lewati bersama. Tawa dan canda saat sahur. Gila-gilaan saat sesi. Tangis haru dan pelukan hangat bagi kami semua. Marah dan kecewa karena dikhianati oleh kami. Semua rasa itu, tampak begitu manis sekarang.
Ingat "kejadian" itu? Saat itu, kami benar-benar merasa seperti pengkhianat, pengecut yang tidak bisa menjaga kepercayaan kakaknya sendiri. Padahal, baru malam sebelumnya kita semua berpelukan dan menangis haru, dan pertama kali merasakan berada di tengah keluarga besar yang hangat. Baru tadi pagi saat sahur kita bercanda, ngobrol bareng. Tapi esoknya, semua itu hancur karena kesalahan kami. Kami benar-benar menyalahkan diri sendiri. Ingat saat kalian melepas name tag itu? Saat itu kami merasa kalian juga melepas semua rasa sayang kalian, melepas semua hubungan kekeluargaan. Tidak ada lagi kakak-kakak yang biasanya selalu berkumpul di pinggir ruang sesi. Tak ada lagi kakak-kakak yang menyiapkan roti dan susu saat malam. Kami benar-benar merasa hancur. Kami tidak tahu harus berbuat apa, semua serbasalah. Kalau ego ini tidak menghalangi, ingin rasanya berlutut minta maaf, dan mengembalikan semuanya ke keadaaan normal. That day was the longest day at my life.
Tapi kemudian, semua berubah jadi super menyenangkan. Suara tawa tiap hari, ejekan, candaan (terutama Prince Inu the comic of standup comedy). Walau harus berduka karena wafatnya kakak perempuan Kak Fia (Innalillahi, semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menerimanya di sisi-Nya). Tapi, semua momen itu, adalah salah satu momen yang paling berharga di hidup kami.
Dan, tibalah hari perpisahan itu. Hari dimana kami pergi untuk mengejar mimpi. But, it such a pity that we couldn't hug all of them, we couldn't look at their eyes one by one and say thank you from the bottom of our heart. Kami berjanji, saat kami kembali nanti, senyum bangga-lah yang akan kami lihat dari kalian.
We met you all as strangers and left you as a big family |
And my first tears here, are for you all. Thank you, thank you, thank you.
Thank you...
Credit for Kak Rizky Grahita @Rizk Photography and Catherine's Facebook
Food!
- United Airline's foods, well, not really good actually. Especially THE DEADLY SALAD, yuck (surprisingly, I ate all of it!). I think I'll die at Sant Bani if I have to eat salad everyday. (Thanks God Mom and Kenz said I didn't have to eat salad everday.. *sujudsyukur)
- At Hilton hotel, the foods were, um, okay. Sometimes it was delicious, but sometimes it was yuck. I felt bad for my friends who fasting, because the Iftar foods were, undescribable. Smokey beef, fish or chicken, 2 eggs, peanuts, lettuce, orange juice, yoghurt (the only good foods there). Everyday. And it was cold too. But I LOVE ice cream sandwich that they gave as a desert at dinner. It's HEAVEN.. So I felt really upset why I overslept for two days and missed this heavenly food. Oh God why..
- Foods here are HUGE. SUPER HUGE. Even though I oredered small-cup ice cream, it could be considered as a big cup in Indonesia. And the pizza, my first lunch at Franklin, I could eat that as my breakfast-dinner-lunch for two days. And the sandwich too. Really big and full. Well, here, I don't have to eat all food in the plate, but still I have to try to eat all.
- The good thing is, they are delicious! Well, still adapted though, but I think it's okay! I think I can live without eat rice too much here, and it's easy to find rice! So, no problem with rice!
Why?
Kenapa?
Kenapa selalu dengan orang yang salah?
Kenapa harus dia?
Kenapa harus sama seperti yang sebelumnya?
Kenapa harus dia?
Kenapa hati ini selalu memilih orang yang salah?
Bukan, dia bukan pilihan yang salah, tapi kesempatannya yang salah.
Bukan, bukan hanya karena jarak dan waktu yang memisahkan,
Tapi karena nyaris mustahil untuk mendapatkannya.
Memang "nyaris", tapi kesempatan yang ada hanya 0,000-sekian persen.
Memang, memang sekian persen itu bisa dimanfaatkan,
Tapi hati inilah yang terlalu pengecut untuk memanfaatkannya.
Hati yang terlalu malu untuk mengungkapkannya,
Hati yang tidak mau jujur, selalu menutupinya dengan kata-kata anonim.
Ya, hati ini memang baru bertemu dengannya.
Ya, hati ini memang sedang merindu.
Ya, hati ini memang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi, kenapa harus dengan dia?
Entah apakah hati ini yang tolol
Atau memang hati ini telah ditakdirkan
Untuk selalu jatuh pada pilihan yang tidak bisa digapai.
Hati ini kangen dia
Kangen banget
Tapi pertanyannya,
Apakah dia juga merasakan hal yang sama?
Ataukah dia bahkan tidak mengingat hati ini?
Harusnya hati ini melepasnya
Membiarkan dia hanya menjadi angan
Tapi hati ini terlalu lemah untuk melakukannya
Hati ini lebih memilih untuk sakit dan menderita
Ketimbang melupakan dia yang telah memberikan sejuta senyuman
Sial,
Kenapa harus dia?
Kenapa selalu dengan orang yang salah?
Kenapa harus dia?
Kenapa harus sama seperti yang sebelumnya?
Kenapa harus dia?
Kenapa hati ini selalu memilih orang yang salah?
Bukan, dia bukan pilihan yang salah, tapi kesempatannya yang salah.
Bukan, bukan hanya karena jarak dan waktu yang memisahkan,
Tapi karena nyaris mustahil untuk mendapatkannya.
Memang "nyaris", tapi kesempatan yang ada hanya 0,000-sekian persen.
Memang, memang sekian persen itu bisa dimanfaatkan,
Tapi hati inilah yang terlalu pengecut untuk memanfaatkannya.
Hati yang terlalu malu untuk mengungkapkannya,
Hati yang tidak mau jujur, selalu menutupinya dengan kata-kata anonim.
Ya, hati ini memang baru bertemu dengannya.
Ya, hati ini memang sedang merindu.
Ya, hati ini memang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi, kenapa harus dengan dia?
Entah apakah hati ini yang tolol
Atau memang hati ini telah ditakdirkan
Untuk selalu jatuh pada pilihan yang tidak bisa digapai.
Hati ini kangen dia
Kangen banget
Tapi pertanyannya,
Apakah dia juga merasakan hal yang sama?
Ataukah dia bahkan tidak mengingat hati ini?
Harusnya hati ini melepasnya
Membiarkan dia hanya menjadi angan
Tapi hati ini terlalu lemah untuk melakukannya
Hati ini lebih memilih untuk sakit dan menderita
Ketimbang melupakan dia yang telah memberikan sejuta senyuman
Sial,
Kenapa harus dia?
Minggu, 12 Agustus 2012
Langganan:
Postingan (Atom)